Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Atoni abit Pah Meto (Penduduk Timor)

19.31 5

Sumber Foto : www.antaranews.com

Atoni abit pah meto atau Atoin meto adalah sebutan bagi penduduk bagian Timor Tengah Selatan dan sekitarnya yang termasuk Timor bagian barat. Kata atoin meto atau atoni pah meto jika diartikan secara lurus berarti orang di tanah kering namun arti yang sebenarnya yakni pemukim terdahulu sedangkan pah meto berarti daratan dan pendatang yang menduduki tanah Timor atau pah meto disebut Kase (pendatang).
 Atoin meto memiliki bahasa ibu yang disebut Uab meto yang digunakan dalam percakapan sehari-hari maupun dalam percakapan adat. Bahasa Timor (Uab Meto) memiliki struktur bahasa yakni bahasa pergaulan, bahasa resmi (tonis) dan bahasa yang digunakan untuk berbicara di kerajaan (sonaf). Meskipun uab meto masih memiliki keterbatasan yakni dalam perbendaharaan katanya, namun uab meto juga memiliki sastra adat berupa puisi dan pantun yang biasa digunakan dalam natoni, bonet, onen (doa) dan dalam perkawinan adat atau acara adat sejenisnya. Atoni pah meto sangat memegang teguh tradisi, budaya dan adat istiadatnya tak heran jika tradisi dan adat istiadatnya masih dijalankan hingga sekarang.
Atoin meto pun memiliki banyak kreatifitas yakni kerajinan tangan dan kesenian yang bernilai jual. Kreatifitas-kreatifitasnya yakni tenun ikat, tarian, makanan khas dan pantun. Salah satu tradisi yang menunjukkan kreatifitas tingginya atoin meto yakni Natoni, Bonet dan tenunan bermotif.
Atoni pah meto memiliki semboyan persatuan “Nekaf mese ansaof mese” yang berarti “Satu hati dan Satu jiwa” dan semboyan “Manekat ma matakus” yang berarti saling mengasihi dan saling menghargai. Norma kesopanan, etika dan moral yang dimiliki orang Timor telah diajarkan sejak dini dalam kehidupan kesehariannya.
 Seperti umumnya pekerjaan orang Indonesia, sebagian besar penduduk Timor pun bekerja sebagai petani. Hasil alamnya antara lain jagung, padi, ubi, kelapa, jeruk,dll. 
Sebelum masuknya injil khususnya Amanuban mempercayai “Uis Neno ma Uis pah” “dewa langit dan dewa bumi” dewa langit dipahami sebagai Ayah yang maha pencipta, melindungi dan menaungi semua ciptaan. Dewa bumi dipahami sebagai seorang ibu (ibu pertiwi) yang memangku bumi, menafkahi manusia.
Ada pemahaman hubungan biologis antara uis neno dan uis pah yang melahirkan manusia.
Tata bahasa uab meto sangat rumit/flexibel karena selain waktu dll, sehingga pembuatan kamus dan buku tata bahasa rumit.
Manusia terdiri dari atoni (Laki-laki) ma bife (Perempuan) atoni berarti yang merespon ( merespon uis neno/Tuhan)
Bife (fe = memberi. Bife = yang memberi.(memberi dukungan kepada atoni untuk atoni merespon uis neno/Tuhan).
Adapula salah satu tradisi orang Timor yakni Naketi. Naketi berarti mengembalikan suatu nilai pada porsinya. Karena pemahaman bahwa adat adalah suatu sistem nilai yang sudah ada sejak awal (turun temurun) dan apabila ada perilaku menggeser nilai adat maka harus mengembalikan nilai pada porsinya maka hidup akan sejahtera karena manusia adalah bagian dari sistem nilai tersebut.

Sekian ulasan singkat tentang orang Timor !


Natoni

22.06 0
Sumber foto : Pos Kupang- Tribunnews.com


Setiap daerah tentunya memiliki  tradisi, budaya dan adat istiadat yang berbeda-beda. Ini adalah salah satu tradisi  bernama “Natoni” yang berasal dari daerah Timor.
Natoni adalah kata kerja yang berasal kata dari “Tonis” (bahasa Dawan/Timor) yang berarti “Bahasa resmi dalam upacara adat” atau disebut juga “sastra adat”. Natoni disebut sastra adat karena berupa pantun yang di ucapkan sedangkan sendiri Natoni berarti menyampaikan bahasa resmi dalam upacara adat.
Natoni adalah sebuah alat komunikasi resmi yang bertujuan untuk menyampaikan maksud tertentu dalam upacara adat orang Timor seperti pada peminangan, perkawinan adat, pemakaman, penerimaan tamu, pelepasan tamu, pertemuan keluarga, menghadap raja (usif) dan yang sakral yakni onen (doa), tutur sejarah, dan tutur silsilah.
Natoni yang dilakukan dalam penyambutan dan pelepasan tamu dilakukan oleh sekelompok orang yang terdiri dari seorang penutur natoni (Atonis) dan beberapa orang yang menjawab atau merespon ucapan yang diucapkan penutur natoni (Ahe’en/atutas). Sedangkan dalam upacara adat lainnya natoni dilakukan oleh kedua belah pihak dengan cara saling merespon antara kedua penutur (atonis) tanpa ada atutas (sekelompok orang yang merespon). Dalam tradisi ini pula setelah melakukan natoni sang penutur akan memberikan tiba  atau oko mama (wadah yang terbuat dari bambu/dianyam) yang berisikan uang  kepada orang yang dituju.   
Ada pula mitos dalam natoni yang dipercayai orang Timor yakni jika penyampaian tonis-nya benar maka akan direspon dengan suara cecak tetapi jika penyampaiannya salah maka penutur tersebut akan mengalami musibah. Oleh karena itu menjadi penutur tonis harus benar-benar mengetahui cara menyampaikan dan kata-kata yang pantas untuk di sampaikan serta aturan adat yang harus dilakukan.
Tradisi ini sudah berlaku sejak nenek moyang sehingga para generasi penerus perlu melestarikan dan tetap memegang teguh tradisi tersebut sebagai alat untuk berkomunikasi secara resmi dalam upacara adat atau sejenisnya. Sesuai dengan tinjauan saya, di Kab. TTS  selain sebagai bahasa resmi dalam upacara adat, sekarang ini Natoni juga digunakan untuk menyampaikan pesan pembangunan dan difungsikan juga dalam pelayanan gerejawi.
Tradisi, budaya dan adat istiadat merupakan identitas seseorang. Siapa kita jika tidak mengetahui tradisi, budaya dan adat istiadat kita sendiri? Perkembangan zaman, keingintahuan orang akan budaya daerah kita merupakan hal yang dapat mendatangkan keuntungan bagi kita. Oleh karena itu, marilah kita mengembangkan dan melestarikan tradisi dan budaya daerah kita masing-masing.

Semoga bermanfaat !